Menu

Gado Gado

Bahas Sana Bahas Sini

Kisah Nabi Ibrahim dan Raja Namrud

June 30, 2015

Kisah Nabi Ibrahim Sebelum Nabi Ibrahim lahir, raja Namrud pernah bermimpi menonton seorang anak lelaki melompat masuk ke dalam kamarnya lalu merampas mahkota dan menghancurkannya. Esok harinya dia memanggil tukang ramal dan tukang tenung utk menafsirkan mimpinya itu. Menurut tukang ramal, anak laki laki dalam mimpi sang raja itu kelak akan meruntuhkan kekuasaan sang raja. Tentu saja raja namrud murka. Dirinya memerintahkan terhadap para prajuritnya untuk membunuh setiap bayi cowok yang baru saja lahir. Saat Ibrahim lahir, kedua orang tuanya bersembunyi di dalam gua. Sejak bayi hingga menginjak remaja beliau dibesarkan di dalam gua. Ia tidak pernah melihat dunia luar.

Ibrahim Mempergunakan Akalnya buat berpikir
Rasa ingin tahu merasuki jiwa Ibrahim, tatkala ini beliau hanya menonton bongkahan batu dan tanah di dalam gua. Kala ibunya sedang pergi ke kota mencari makanan, dirinya serta coba keluar gua. Begitu menapakkan kakinya diluar gua, Ibrahim tercengang. Ia memang takjub menonton alam yang amat luas, gunung-gunung menjulang tinggi, langit biru terbentang luas, ombak laut berkejar-kejaran. Di siang hari dirinya melihat cerahnya mentari, di malam hari ia melihat sinar bulan yang menerangi tengah tengah malam.

Sejak kecil Nabi Ibrahim sudah mendapat petunjuk dari Tuhan, ia merasa heran menonton sekian banyak orang yang menyembah patung padahal patung-patung itu tak dapat berkata, tak dapat melihat, tak akan mendengar dan tak dapat memberikan pertolongan. Mengapa mereka menyembah benda mati ?” demikian pertanyaan yang timbul di benak Ibrahim. Jikalau ia bertemu dengan unta, kambing dan domba-domba selalu bergolak pertanyaan dalam hatinya, siapakah yang menciptakan seluruhnya itu ?

Ibrahim ingin mencari siapakah yang berkuasa atas semua ini, siapakah selayaknya yang pantas dijadikan Tuhan dan wajib disembah ? Kisah Nabi Ibrahim dan Raja Namrud Dikala malam tiba, kisah nabi ibrahim & nabi ismail ia menyaksikan bulan dan bintang-bintang, tetapi bulan itu akhirnya tenggelam tak tampak lagi. Pada siang hari ia melihat matahari, tetapi disenja hari matahari itu juga tenggelam tak Nampak lagi. Ibrahim berbicara dalam hatinya : “Aku tidak senang bertuhan yang tenggelam itu.” Akhirnya Ibrahim dapat menemukan kesimpulan, akal pikirannya yang masih suci bersih itu memutuskan bahwa Tuhan yaitu Yang menciptakan seluruh alam ini. Berbicara dalam hatinya : “Tuhanku ialah yang menciptakan langit dan bumi, Tuhanku yang menciptakan manusia, tetumbuhan, hewan dan apa-apa saja yang terdapat di muka bumi ini.

Ibrahim bergaul dengan kaumnya
Sesudah dewasa dan info berkenaan pembunuhan bayi-bayi sudah sirna. Ibrahim diijinkan kedua orang tuanya ke luar dari gua utk hidup ditengah-tengah masyarakat. Kesedihan menggoroti hatinya, nyata-nyatanya penduduk disekitarnya sudah bobrok mental dan akhlaknya. Akal pikiran mereka benar-benar lah sudah tumpul sehingga patung dan batu-batu bergambar mereka jadikan Tuhan yang disembah-sembah. Ayah Ibrahim sendiri merupakan tukang pembuat patung yang dijual ke masyarakat banyak, dan ayahnya serta menyembah patung yang dibuatnya sendiri.

Ibrahim seterusnya mengadu terhadap Tuhan : “Ya Tuhan, aku sedang menderita, derita batin. Aku menonton kemungkaran dan kesesatan, utk apakah gerangan akal pikiran yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka ? Apakah akal pikiran itu hanya dimanfaatkan buat mencari kekayaan dan berbuat kerusakan belaka. Oh Tuhanku, tunjukilah aku kalau Tuhan tidak menunjuki aku, sesungguhnya aku akan menjadi orang yang tersesat dan berbuat aniaya.

Dahulu Allah memberikan tata cara kepadanya, dia diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Dia diberi Wahyu sehingga keyakinan tentang adanya Tuhan bukan sekedar kesimpulan akal pikirannya belaka melainkan berasal dari ketetapan Tuhan. Allah mengajarkan segala rahasia yang ada di balik alam nyata ini, bahwa di balik alam nyata ini ada pun alam ghaib. Setiap manusia yang mati kelak dapat dibangkitkan lagi di alam akhirat.

Ibrahim Meyakinkan Dirinya
Nabi Ibrahim sebenarnya sudah percaya bakal adanya hari pembalasan di akhirat. kisah nabi ibrahim & raja namrud Kepada suatu hari beliau ingin mendapatkan panduan yang lebih nyata dan meyakinkan hatinya. Maka berdoalah beliau kepada Tuhan : “Ya, Tuhanku perlihatkanlah kepadaku, bagaimana Engkau menghidupkan sekian banyak orang mati.” Allah menjawab permintaan Ibrahim itu bersama satu buah pertanyaan : “Apakah kamu belum percaya Ibrahim ?” Nabi Ibrahim menjawab : “Saya telah percaya namun supaya bertambah yakin hati saya.”

Tuhan setelah itu memerintahkan Ibrahim mengambil empat ekor burung. Keempatnya dipotong-potong dan tubuhnya dicerai beraikan atau dipisah-pisahkan. Potong-potongan kecil dari keempat burung itu dilumatkan selanjutnya dijadikan empat onggok masing-masing onggokan diletakan di puncak empat bukit yang letaknya berjauhan. Ibrahim kemudian diperintahkan mengambil burung-burung yang sudah hancur tadi. Tiba-tiba saja burung itu hidup lagi seperti sedia diwaktu dan menghampiri Nabi Ibrahim.

Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail Sekarang Ini bertambah yakinlah Ibrahim mampu kekuasaan Allah yang menghidupkan sesuatu yang sudah mati. Allah sesudah itu berfirman kepada Ibrahim : “Demikian pun Aku akan membangkitkan manusia yang sudah mati utk dihidupkan di alam akhirat, dan akan dihisap amal perbuatannya sewaktu di dunia. dan semua manusia dapat menerima balasannya sendiri-sendiri”.

Ajakan kepada Ayahnya Meninggalkan Berhala
Sebelum Nabi Ibrahim mengajak kaumnya utk meninggalkan penyembahan terhadap berhala, perdana kali yang diajaknya menyembah Allah yaitu ayahnya sendiri. Ayah Ibrahim yang bernama Aazar adalah pembuat patung berhala, ia memperingatkan ayahnya dengan bahasa yang lemah lembut penuh kesopanan : “Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak menonton dan tidak dapat meringankan kamu sedikitpun ? Wahai ayahku, sesungguhnya aku mempunyai ilmu yang diberikan Allah dan tidak bisa saja diberikan kepadamu. Maka ikutilah nasihat-nasihatku, nsicaya akan menunjukan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, jangan sampai engkau menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku kuatir engkau akan ditimpa adzab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau sanggup menjadi teman dari setan.”

Tapi ayahnya tidak ingin mengikuti ajakan Ibrahim. Berkata ayahnya, “Bencikah kamu terhadap Tuhanku, Ibrahim ? Bila kamu tidak mogok mengajakku niscaya aku bakal merajammu. Tinggalkanlah aku untuk disaat yang lama. Dikarenakan ayahnya tak akan mengikuti ajakannya ia hanya bicara : “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku dapat memintakan ampun bagimu pada Tuhanku. Sesungguhnya Dirinya amat baik padaku. dan aku mampu menjauhkan diri dari padamu dan dari apa yang kamu sembah tak cuma Allah. dan aku sanggup berdoa kepada Tuhanku. Mudah-mudahan aku tidak kecewa dengan berdoa pada Tuhanku.”

Doa atau permohonan Nabi Ibrahim utk ayahnya tak lain adalah dikarenakan kasih di sayangkan selaku anak kepada ayahnya. Namun setelah Allah menerangkan bahwa ayah Ibrahim yaitu musuh Allah maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Tak ada beban moral lagi selaku anak kepada ayahnya seperti tersebut dalam Al-Qur’an : “Dan permintaan ampun dari Ibrahim untuk ayahnya, tidak lain hanyalah dikarenakan sebuah janji yang telah diikrarkan terhadap ayahnya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa ayahnya yakni musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim yaitu seorang yang lembut hatinya lagi penyantun.”

Nabi Ibrahim Menghancurkan Berhala-berhala
Nabi Ibrahim merupakan satu orang cerdas dan ahli logika juga strategi yang ulung, dirinya ingin berdialog dengan Raja Namrud di hadapan orang banyak dgn trik beliau hancurkan lebih dulu berhala-berhala yang menjadi sesembahan Raja Namrud dan rakyatnya. Elemen itu dirinya jalankan diwaktu sang raja dan seluruhnya rakyat sedang berpesta hari raya dengan berburu ditengah hutan. Diwaktu rumah penyembahan berhala kosong maka Ibrahim masuk membawa kapak. Berhala-berhala kecil dan sedang dihancurkannya, lalu kapak yang dibawanya itu diletakkan di leher berhala yang paling besar.

Raja Namrud dan pengikutnya kembali dari perburuan dgn wajah gembira. Mereka bakal mengadakan pesta pora sambil menyembah berhala diruang pemujaan. Tapi betapa terkejut mereka ketika menyaksikan berhala-berhala itu telah cerai berai. “Kurang ajar siapa yang berani menghancurkan berhala kita ? “Raja Namrud meluapkan amarahnya. Tidak seseorang pun menjawab, tapi ada seseorang saksi yang menyaksikan bahwa hanya Ibrahim saja yang tidak ikut berburu ke hutan dengan alas an perutnya sakit. “Tangkap dia dan bawa ke hadapanku !” Perintah Raja Namrud. Ibrahim kemudian diringkus, dalihnya lantaran hanya ia satu orang yang tidak ikut keluar kota untuk berburu hewan. pasti lah ia yang melakukan penghancuran ini.

Dirinya dibawa ke hadapan Raja Namrud, disaksikan rakyat banyak dia diinterogasi. Ibrahim tersenyum, benar-benar inilah yang diharapkannya. Bertanya Raja namrud : “Apakah kamu yang menghancurkan berhala-berhala itu ?” Bukan ! “jawab Ibrahim. “Ibrahim ! Sergah Raja Namrud. “Cukup banyak bukti yang menunjukkan kaulah pelakunya. Tak usah mungkir !” Bukan aku pelakunya ! Jawab Ibrahim utk memancing emosi Raja Namrud. Ia ingin mengajak dialog raja itu.

Baiklah Raja Namrud, “kata Ibrahim, “saya miliki pikiran, kamu pun punya pikiran. Kalau mau mencari tahu siapa pelaku penghancuran berhala-berhala itu maka tanyakanlah pada berhala yang paling besar itu. Bukankah kapak itu menggantung di lehernya, berarti berhala paling agung itu pelakunya.raja Namrud berang mendengar ucapan itu : “Hai Ibrahim kau sungguh bodoh ? di mana otakmu ? masak patung seperti itu dapat saya ajak berbicara mana mungkin saja dia bias berkata? Kau jangan mengada ngada !

“Hai Raja namrud ! Kata Ibrahim dengan lantangnya, siapa sebenarnya yang bodoh. Mengapa patung yang tak dapat bicara dan bergerak kau jadikan Tuhan yang harus disembah. Mengapa patung dan berhala yang tak dapat melindungi dirinya itu kalian puja-puja, bukanlah ini kebodohan yang amat amat ?” Raja Namrud dan pengikutnya terdiam mendengar jawaban Ibrahim itu. Sebagian masyarakat akalnya sehat membenarkan ucapan Nabi Ibrahim itu, tetapi mana berani mereka angkat berkata. Sementara Raja Namrud dan pengikutnya tak dapat membantah. Hanya amarah yang timbul di hatinya, dan cepat Raja Namrud memerintahkan Ibrahim utk dibekuk dan diikat.

Apa hukuman yang layak dijatuhkan untuknya ? Taya Raja Namrud pada para penasihatnya. Bakar ! bakar saja dia sampai mati ! jawab para penasihat kerajaan. Kayu-kayu langsung dikumpulkan, Ibrahim diletakkan di atasnya dalam keadaan terikat kemudian dibakarlah ia hingga kayu yang bertumpuk-tumpuk itu habis. Raja Namrud dan rakyatnya mengira Ibrahim bakal hangus menjadi abu. Namun setelah api itu padam Ibrahim tetap segar bugar. Itulah mujizat Nabi Ibrahim. Tak mempan terbakar.

Dialog Ibrahim dengan Raja namrud
Sesudah Ibrahim dibakar tidak mati, sebenarnya tak sedikit rakyat yang mau mengikuti ajarannya. Namun karena takut kepada ancaman Raja Namrud, maka mereka ada tidak sedikit yang kafir. Nabi Ibrahim serta menyambung dakwahnya untuk mengajak manusia hanya menyembah Allah. Aspek ini membuat murka Raja namrud. suatu hari Nabi Ibrahim dipanggil menghadap ke istana Raja Namrud. Engkau telah menyebarkan fitnah yang jahat sekali, “Kata Raja Namrud, “Adakah Tuhan tidak hanya aku? Akulah Tuhan yang harus kamu sembah. Aku mampu megatur dan merusak segala-galanya. Siapakah yang lebih tinggi kekuasaannya dari terhadap saya? Hukum yang kutetapkan mesti berlaku, keputusanku pasti berjalan. Semua orang tunduk kepadaku, mengapa kau menantangku ?”

Dgn tenang Ibrahim menjawab : Tuhanku merupakan Allah. Dialah yang kusembah, dia telah menciptakan kamu dan aku yang asalnya tiada. Ia sanggup mematikan dan menghidupkan siapa saja yang Dikehendaki-Nya. Dia merupakan pencipta langit dan bumi. Raja Namrud menyanggah jawaban Ibrahim itu dengan pendapatnya yang konyol “ “Aku pun bias menghidupkan dan mematikan. Benarkah ? Tanya Nabi Ibrahim. Raja namrud selanjutnya memerintahkan pengawal buat megeluarkan dua orang narapidana. Kemudian Namrud mengambil pedang, salah seseorang dari narapidana itu dipenggal lehernya sampai mati, seorang lagi diampuni, dibiarkan hidup. Dahulu Namrud berbicara : “Begitulah caranya aku menghidupkan dan mematikan.”

“Itu bukan mematikan, melainkan membunuh dengan cara biadab dan kejam. “Kata Ibrahim, Tuhanku bias menjalankan matahari dari timur ke barat, kalau kau benar-benar berkuasa namrud, cobalah kau laksanakan matahari itu dari barat ke timur !” Namrud terbungkam tak bias berkata. Tantangan Nabi Ibrahim memang telah dijatuhkan oleh kecerdasan akal Ibrahim. Namrud terbungkam tak mampu bicara. Tantangan Nabi Ibrahim memang lah membuatnya keok, tak dapat membantah lagi, dirinya benar-benar telah dijatuhkan oleh kecerdasan akal Nabi Ibrahim. Sejak kala itu Namrud punyai anggapan Ibrahim yang merupakan musuh besarnya.

Ibrahim Hijrah ke Mesir
Sebab Negeri babilon tidak aman lagi bagi Ibrahim dan istrinya maka beliau memutuskan untuk pindah ke Syam (Palestina). Dengan Nabi Luth yang setelah itu pun menjadi Nabi dan sekian tidak sedikit pengikutnya ia meninggalkan Babilon (baca Kisah Nabi Luth AS). Tetapi tidak berapa lama di Negeri Palestina diserang bahaya kelaparan dan penyakit menular. Ibrahim dan pengikutnya setelah itu pindah ke Mesir. Mesir kepada disaat itu diperintah oleh Raja kejam dan suka berbuat seenaknya. Raja Mesir menyukai merampas wanita-wanita elegan walapun wanita itu bersuami.

Disaat Raja Mesir mendengar bahwa Sarah yakni perempuan yang jelita maka Ibrahim dan Sarah dipanggil menghadap. Ibrahim berdebar, Raja Mesir benar-benar lah mempunyai kebiasaan aneh, ialah merampas istri orang yang berwajah cantik sekedar untuk menunjukkan betapa besar kekuasaannya, tak seorang serta berani menghalangi perbuatannya. Setelah menghadap Raja Mesir beliau ditanya : “Siapakah perempuan itu ? “Saudaraku, “jawab Ibrahim, sengaja dia berbohong, sebab apabila dia berbicara tetap terang tentu dia dapat dibunuh Raja Mesir dan istrinya akan dirampas. Perbuatan Ibrahim ini menjadi kaidah, boleh berbohong dalam keadaan terdesak dan terancam bahaya.

Go Back

Comment